Beranda Editorial opini Sosialita Palsu Di Jakarta
Banner
Banner

Hot News

Rahasia Umum Setya Novanto
23/09/2014 | endro rhs
article thumbnail

Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dan pimpinan Koalisi Merah Putih, diminta meninjau ulang pencalonan Setya Novanto. Ical--sapaan Aburizal, disarankannya untuk berhati-hati dalam membuat keputusan.  [ ... ]


“Rumah Transisi” Diplesetkan Jadi “Rumah Transaksi”
09/09/2014 | endro rhs
article thumbnail

Spanduk sindiran Rumah Transisi yang terletak di Jalan Situbondo 10, Menteng, Jakarta Pusat terpasang di sejumlah jalan di Jakarta. Salah satu spanduk tersebut terpasang di Jalan Raya Tugu Tani, Jakar [ ... ]


Sex, Lies & Cigarettes

Banner
Banner

 

Sosialita Palsu Di Jakarta PDF Print E-mail

Kasus Malinda Dee, yang memiliki dua Ferrari dan apartemen premium di Jakarta Selatan, membuka mata banyak orang. Bahwa di Jakarta memang banyak para sosialita yang bergaul dalam fenomena jetset. Sesungguhnya, banyak juga kaum sosialita yang bukan karena statusnya berada di kalangan tingkat atas, konglomerat, dan termasyur. Mereka berada di public relation, designer yang hidupnya dalam industry fesyen, pemilik butik dan sebagainya.

Terdongkraknya para sosialita itu, tak lepas dari peran media massa gaya hidup. Banyak majalah gaya hidup yang menyisihkan lembarannya untuk menampilkan kaum elit ini. Di berbagai acara, fotografer pun memburunya sekedar hanya berpose. Klik! Klik! Yang penting eksis. Dalam kaitan itupula, mereka kerap mengundang media massa dalam acaranya, lewat gelaran party sekedar berhaha-hihi atau pesta berlabel acara social. Bisa juga, aktris dan selebriti yang ingin mendapat “order”, kemudian bergaul dengan istri pejabat.

Tak semua orang kaya bisa disebut socialite. “Kalau saya lebih senang menyebutnya fashionista,” ujar Yulie Setyohadi, pemilik Haute Lister Lifestyle Manajemen. Yulie enggan menyebut kelompoknya sebagai sosialita. Karena kata itu, menurutnya erat kaitannya dengan orang kaya tapi tak punya profesi. Sedangkan di Indonesia, menurut Yuli yang penting adalah keluarga mapan, lengkap materi dan intelektual serta mempunyai jiwa sosial.

“Karena hal pertama yang Anda lakukan kalau ingin berada di lingkungan semacam ini adalah memberi,” jelasnya.

Namun, bagi yang tak memiliki darah kaya, dan ingin disebut socialite juga bisa. Pilih karir yang tepat dan mendapat gaji yang tinggi, bisa di bidang seni, bahasa, mode, hukum atau financial. Lingkungan yang baik dengan mengambil pendidikan universitas ternama di luar negeri. Pelajari bahasa asing, Inggris lebih bagus lagi Perancis. Belajar mempromosikan diri, dengan membuat kartu nama, blog, atau perusahaan Anda di majalah. Bergaul di jaringan sosial.

Berlaku seperti seorang sosialita, banyak dilakukan orang-orang tertentu biar dicap kaum sosialite. Membeli atau tertarik pada benda mahal dalam bidang mode, seni, pesawat, kuliner, dan olahraga. “Karena di kalangan socialite, jika seseorang menyebut satu nama, semua orang mengenal nama itu,” seorang sosialita yang enggan disebut namanya kepada Matraindonesia.com. Jadi canggih, dengan membaca tata krama internasional menjadi bekal.

Mengunjungi museum, menonton galeri, serta bertemu dengan seniman dan sastrawan. Bersikap anggun dan mengikuti mode. “Hal yang paling mendasar adalah mengingat nama dan wajah sosialita paling berpengaruh di tiap acara,” ujar Budi memberi kiat. Cari teman dimana pun Anda berada. Berfoto dengan kaum VIP dan jalin persahabatan sejati dengan beberapa orang. Namun, jangan perlakukan orang VIP berlebihan. “Hilangkan kesan menjadi orang kaya baru,” paparnya.

Walau tak bisa dipungkiri, ada kelompok yang biasanya memandang remeh “orang baru”. Sehingga kaum perempuan baru, atau di kalangan itu pembicaraannya sambil menenteng tas kulit asli dengan harga puluhan juta rupiah, mulai merek Gucci, Chanel, Louis Vittton, hingga Hermes. Menjadi “sesuatu” di kalangan itu jika mengenakan jam tangan Rolex hingga Bulgari. Pakaian dari butik kenamaan. Sehingga, kaum yang sering hadir di acara peresmian restoran, produk gaya hidup, fesyen hingga lukisan. “Muncul selentingan negatif, peran sosialita di masyarakat,” ujar Silly, pengamat sosialia.

Banyak juga sosialita gadungan yang nimbrung ke kalangan itu dan masuk ke acara social mereka. Pemilik aku twitter @justsillly menulis masalah “charity settingan” di blog pribadinya. Ada kejadian, dalam acara penggalangan dana yang dihadiri sosialita, dipaparkan kondisi anak 10 tahun yang butuh pertolongan. Tak pelak, sosialita yang hadir kala itu antusias dan menyatakan akan membantu. Gaun-gaun itu dilelang dengan harga puluhan sampai ratusan juta rupiah. Namun, di akhir acara, hasil dari acara itu tak sampai yang membutuhkan. Anda termasuk yang mana?