Beranda Peristiwa nasional Era Detektif Swasta
Banner
Banner

Hot News

Fenomena Obat Pelangsing Berbahan Narkotika
26/08/2013 | endro rhs
article thumbnail

Langkah lanjutan sedang dikoordinasikan antara Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi DKI dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Hal ini berkaitan ada temuan di lapangan, yang patut diwaspa [ ... ]


Temu Dewan Syuro Balai Wartawan Polri
05/08/2013 | endro rhs
article thumbnail

Pada tanggal 1 Agustus 2013, bertempat di Lumbung Desa, Kebayoran Baru, terjadi diskusi masalah narkoba. Acara buka puasa yang berlangsung santai, dijadikan semacam forum diskusi, oleh Badan Narkotika [ ... ]


Sex, Lies & Cigarettes

Banner
Banner

 

Era Detektif Swasta PDF Print E-mail

Mentari sore masih memancarkan sinar kemerahan. Dari perangkat sound system sebuah kafe di bilangan Ampera, Jakarta Selatan, mengalun lagu Apologize milik One Republik.  Beberapa pasangan muda-mudi tampak santai menikmati waktu sore sambil minum kopi di ruang utama Bondies Café itu. Seorang lelaki berbadan gempal namun padat duduk di pojok kafe tersebut. Ia ditemani seorang wanita cantik berambut ikal panjang. Sebuah tas hitam berisi kamera double lens dan beberapa alat elektronik terjejer di kursi pajang tempat ia duduk. “Silakan pesan minum dulu, Mas. Kita santai saja di sini,” ujar lelaki berambut pendek itu saat eksekutif menemuinya. Namanya Samuel. Sedangkan yang perempuan bernama Audi. Mata kedua orang ini terlihat selalu waspada dengan orang-orang yang keluar masuk kafe.

Kedua orang ini sedang “bekerja”. Maklum, meski punya kantor, Samuel dan Audi bukan orang kantoran. Waktu kerjanya tak pasti. Mereka berprofesi sebagai penyelidik swasta. Meski kerjanya melakukan pengintaian terhadap orang atau benda yang menjadi target, namun Samuel dan Audi bukan intel atau reserse.  Orang awam menyebut mereka adalah detektif swasta.

Sudah seminggu lebih keduanya “duduk-duduk” di kafe itu dari siang hingga kafe tutup order. “Kami sedang menyelidiki kasus perselingkuhan pengusaha. Targetnya berada di sekitar sini,” ujar Samuel sambil berulangkali memerhatikan suasana bangunan yang berada tepat di depan kafe tersebut. Bisa jadi, di dalam gedung itulah target yang sedang diselidiki. Saat ditanya lebih detail tentang targetnya, Samuel enggan menjelaskan. Mungkin itu bagian dari kerahasiaan yang harus ia jaga saat bertugas.

Untuk siapa kedua penyelidik swasta ini bekerja? Secara kelembagaan, keduanya bekerja di Bali Eye Private Investigation Agency (BEPIA). Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa investigasi yang berkantor pusat di Bali. BEPIA memiliki sejumlah klien yang memintanya untuk menyelidiki berbagai macam kasus. Intinya, penyelidik swasta ini bekerja berdasarkan pesanan dari klien.

Perusahaan yang juga punya kantor di Jakarta ini baru empat tahun berdiri. Awalnya, kata Samuel, bisnis ini dibangun untuk menyelidiki kasus-kasus perselingkuhan para istri dari orang bule yang tinggal di Bali. Seiring dengan berkembangnya BEPIA, klien pun berkembang. Tak hanya orang asing tapi juga orang Indonesia. Jenis kasus yang ditangani pun beragam, mulai dari kasus orang hilang, menyelidiki latar belakang calon mitra bisnis atau calon pasangan hidup, menyelidiki keabsahan legalitas hotel yang akan dibeli, hingga kasus perselingkuhan. “Tapi yang terbanyak adalah kasus perselingkuhan,” ujarnya.

Mirip Kerja Intel

Sekilas, dari penjelasan Samuel, cara kerja yang ia jalani mirip seorang intel. Memata-matai target, lalu mendapatkan data-data berupa video, foto, atau suara. Yang membedakan, jika intel selalu diakhiri dengan penangkapan atau penggerebegan, penyelidik swasta ini tidak.  Prinsip kerja tim investigator BEPIA sebatas mengamati target untuk mendapatkan informasi dan data-data sesuai kebutuhan klien. “Kepada klien kami tegaskan bahwa tugas kami hanya mengamati dan mendapatkan bukti-bukti dalam bentuk foto, video, atau suara hasil rekaman. Soal kelanjutannya, kami serahkan kepada klien,” ungkapnya.

Klien BEPIA tak hanya dari kalangan atas seperti pejabat dan pengusaha, tetapi juga dari kelas menengah seperti karyawan perusahaan. Samuel mencontohkan, pernah mendapat klien seorang perempuan. Suaminya bekerja di sebuah TV swasta di Jakarta. Perempuan ini curiga suaminya sedang berselingkuh dengan seorang wanita lain. Dalam tempo dua minggu, tim BEPIA berhasil mendapatkan data berupa video dan foto target dalam jarak dekat. Kedua target itu lagi bermesraan di dalam mobil. “Kami mengintainya dari dalam mobil di parkiran sebuah gedung bioskop,” katanya sambil memeragakan cara memakai alat-alat intainya kepada eksekutif.

Menurut pria yang punya kemampuan beladiri ini, untuk mengungkap kasus selingkuh itu tak terlalu sulit. Dari hasil pemetaan awal, kedua insan yang sedang melakukan affair ini ada kebiasaan rutin: jumpa tiap Jum’at malam seusai kerja, masing-masing membawa mobil, jadi tidak saling tunggu, dan menonton di bioskop yang sama, lalu bermesraan di dalam mobil di area parkiran sehabis nonton.

Untuk bisa mengintai keberadaan target, tim investigator mencari sendiri jadwal dan kebiasaan yang dilakukan target. Caranya bisa bermacam-macam: melalui informasi klien, menungggui seharian di depan kantor target, atau cara lainnya. “Kami punya banyak cara untuk  mendapatkan informasi,” ujarnya.

Lain BEPIA, lain pula PT Aviyasa Consulting. Perusahaan ini juga bergerak di bidang jasa penyelidik swasta. Jika BEPIA selama ini banyak menangani kasus perselingkuhan, Aviyasa lebih banyak menangani kasus yang menimpa korporat. Misalnya, ada debitor sebuah bank yang gagal melunasi utang. Alasannya, aset-aset perusahaan tidak cukup untuk membayar. "Kami diminta bank menelusuri aset debitor. Istilahnya asset tracing. Kami mencari data yang bisa menjadi dasar kuat bagi bank untuk menagih," ujar Gigih Guntoro, Manajer Operasional PT Aviyasa Consulting, kepada eksekutif.

Aviyasa berdiri 2007. Tiga pendiri Aviyasa adalah Haris Rusly Moti, Edwin Alexander, dan Ulin Niam Yusron. Masing-masing memiliki latar belakang berbeda. Haris Rusly Moti, misalnya, punya background aktivis. Alumnus UGM itu sempat menjadi pengurus Partai Rakyat Demokratik (PRD) di awal-awal reformasi.

Edwin Alexander juga seorang aktivis LSM. Dia pernah memimpin Lembaga Pemajuan Budaya yang di periode akhir Orde Baru menjadi incaran intel pemerintah. Alex punya pengalaman di bidang business intelligence karena pernah bekerja di Consolidated Service International dan mengikuti pendidikan competitive intelligence di Kuala Lumpur, Malaysia. Sementara Ulin Niam Yusron adalah mantan wartawan Tabloid Kontan. “Tapi Ulin sekarang aktif lagi di jurnalis,” ujar Gigih.

Mengandalkan Jaringan

Cara kerja tim investigator Aviyasa sama dengan investigator BEPIA. Untuk melengkapi perolehan data, tim investigator Aviyasa kerap menjalin kerjasama dengan pihak luar, seperti pengacara. Misalnya, seorang pengusaha akan membeli sebuah properti. Tugas  dari tim Aviyasa adalah memetakan kondisi target (bangunan yang akan dibeli) mulai dari sisi legalitas, keabsahan kepemilikan, dan hal-hal lain yang menjadi syarat untuk dijadikan bahan pertimbangan pembelian.

Ada juga teknik dengan melibatkan karyawan kliennya, jika Aviyasa akan menyelidiki kasus kebocoran (misal: pencurian barang) yang dilakukan orang dalam perusahaan. Gigih menyebut orang-orang di luar tim itu sebagai akses. Lelaki berpostur sedang dan berkacamata ini mencontohkan salah satu kasus yang pernah ditangani. Sebuah perusahaan farmasi di Jakarta yang memproduksi obat penyakit jantung mengalami kerugian hingga Rp 2 miliar per bulan, selama lima tahun lebih.

Direktur perusahaan itu sudah menaruh curiga sejak lama terhadap beberapa karyawan, tetapi ia sulit membuktikannya. Maka ia menyewa jasa tim investigator Aviyasa untuk mengungkapnya. Dalam tiga bulan bekerja tim investigasi Aviyasa menemukan lima pelaku pencurian obat-obatan: dua orang dari bagian produksi dan tiga dari bagian quality control. Mereka menjual hasil curiannya di black market Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Dalam melakukan aksinya, para pelaku memanipulasi data produksi. Hasil produksi tiap bulan tidak setara jumlah bahan baku yang dipasok. “Aksi mereka sangat rapi sehingga sulit dideteksi oleh manajemen,” ujar Gigih.

Untuk membongkar kasus ini tim Aviyasa dibantu beberapa karyawan kepercayaan bos perusahaan tersebut dari berbagai divisi, mulai dari satpam hingga orang bagian produksi. Para akses itu bekerja seperti biasa, sesuai dengan bidang dan jam kerja. Hanya saja ada tugas tambahan, yakni memberikan laporan tiap minggu ke para investigator Aviyasa. Para akses ini tidak saling tahu dirinya sedang menjalankan misi penting. Dalam dunia intelijen pola ini disebut “sistem sel”. “Tentu saja untuk menggunakan mereka kami sudah minta izin dari klien,” tambah Gigih.

Rp 300 Juta Per Kasus

Berapa omzet bisnis penyelidik swasta ini? Samuel enggan mengungkapkan. Ia hanya memberi contoh, untuk kasus perselingkuhan yang butuh waktu investigasi seminggu, BEPIA dibayar antara Rp 20-25 juta. “Itu belum termasuk kalau target ada di luar kota, dan biaya-biaya lainnya,” ujar Samuel.

Gigih pun enggan menyebutkan berapa omzet bisnisnya. “Rahasia dapur,” kilahnya. Ia hanya menggambarkan, untuk menangani kasus pencurian yang dilakukan oleh orang dalam perusahaan, setidaknya butuh waktu tiga bulan. “Biayanya sekitar Rp 300 juta,” katanya. Proses pembayaran dilakukan tiga tahap: pra operasi, saat operasi, dan selesai operasi.

Bagaimana dengan kasus perselingkuhan? Menurut Gigih, tidak terlalu sulit menyelidiki kasus semacam ini. Ia akan awali investigasi dengan mencari data pembicaraan telepon selular atau isi SMS antarkeduanya. Caranya? Membeli data dari operator telepon selular sesuai dengan nomor handphone yang digunakan target. Harga data SMS selama sebulan mencapai Rp 5-7 juta. Sedangkan untuk data voice (suara) Rp 4-6 juta per bulan. “Maka itu, kami jarang menangani kasus-kasus private seperti ini, karena kadang bayarannya habis untuk operasional. Daripada kita rugi, mendingan nggak usah,” ujar Gigih tertawa.

Saat ditanya mengenai perizinan bisnisnya, Gigih dan Samuel mengaku bukan perizinan bidang detektif swasta. Menurut Samuel, di Indonesia tak ada izin usaha detektif swasta. Maka itu, surat izin BEPIA masih perorangan yang bergerak di bidang jasa pengumpulan data. Penyebutan detektif swasta di internet adalah bagian dari cara promosi yang BEPIA lakukan.

Pun demikian Aviyasa. Secara legal, perizinan perusahaan ini adalah sebagai konsultan, khususnya untuk  penyediaan jasa riset kebijakan, manajemen hubungan pemerintah, media dan publik, management intelligence, dan assesment resiko dalam beragam kepentingan ekonomi. Tentang sebutan detektif swasta, Gigih mengaku, tidak tahu persis. “Buat kami sebutan detektif swasta itu terserah orang menyebutnya, yang jelas tugas kami adalah menyediakan informasi, menyediakan dokumen. Dan, izin usaha kami resmi dari Menkumdang,” kata Gigih menanggapi adanya kekhawatiran Mabes Polri yang keberatan dengan keberadaan detektif swasta.

Dalam suatu kesempatan, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam pernah menyebutkan, Polri tidak pernah mengeluarkan izin detektif swasta di Indonesia. Alasannya, itu menjadi tugas kepolisian. Ini bagian respon pihak kepolisian terhadap maraknya iklan penawaran jasa investigasi dengan sebutan detektif swasta di internet. Akankah polisi menertibkan fenomena ini? Kita lihat saja. (*)

Alat Intai ala James Bond

Apa saja peralatan yang kerap digunakan para penyelidik swasta dalam menjalankan tugasnya? Beragam. Mulai dari kamera digital double lens, kamera kancing baju, kamera digital berbentuk korek api dan ball point, perekam digital, dan handycam ukuran kecil yang lazim digunakan para intel di lapangan. Mirip yang digunakan tokoh James Bond dalam berbagai filmnya.

Dalam menggunakan alat-alat tersebut seorang investigator harus banyak akal. Bila tidak, akan mudah dikenali dan dicurigai oleh target. Misalnya, saat menyadap pembicaraan dua orang target di sebuah kafe, investigator akan meletakkan alat perekam digital di sela-sela pot bunga atau tembok tak jauh dari target. Daya jangakau rekam alat ini mencapai 4 meter. Untuk target perselingkuhan, biasanya mereka akan memilih di tempat duduk yang  tak banyak orang lalu lalang, seperti di bagian pinggir  atau pojok ruangan. “Saat meletakkan alat perekam, saya berpura-pura ambil sesuatu di dekat target. Yang penting gerak-gerik kita tak mencurigakan,” ujar Gigih, investigator dari Aviyasa Consulting.

Untuk mendapatkan data video, seorang invstigator akan memainkan kamera berbentuk ball point atau korek api. Daya jangkau alat ini mencapai 10 meter dengan hasil gambar yang cukup bagus. Ini lebih mudah karena orang tidak akan curiga. Sementara untuk mendapatkan foto target, investigator akan berpura-pura sedang memotret teman yang ada di depannya, yang juga invsetigator. “Saat motret, lampu blitz harus dimatikan. Jika tidak, bisa dicurigai,” ujar Samuel, Investigator dari BEPIA.

Menjamurnya bisnis penyelidik swasta juga memicu maraknya bisnis peralatan intai atau atau mata-mata. Boleh dibilang para pelaku ini “kecipratan” atas fenomena ini. Sebut saja  Johannes, salah seorang pengusaha peralatan keamanan diri untuk sipil di Jakarta Barat. Selain menjual peralatan pengamana diri, beragam alat pengintaian mulai dari alat sadap suara, kamera berbentuk ball point dan kancing baju, hingga perekam digital tersedia di tokonya. “Secara tidak langsung bisnis kami terhubung ke sana,” ujarnya ke eksekutif.

Nah, bagi yang ingin coba-coba jadi penyelidik swasta, Anda bisa mendapat informasi tentang peralatannya di internet. Cukup ketik: alat detektif swasta, maka puluhan jenis alat yang Anda maksud atau perlukan akan muncul. Selamat mengintai. (salam dari majalah eksekutif)