Beranda Peristiwa nasional Bisnis Pistol Gelap di Masa Krisis
Banner
Banner

Hot News

Rahasia Umum Setya Novanto
23/09/2014 | endro rhs
article thumbnail

Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dan pimpinan Koalisi Merah Putih, diminta meninjau ulang pencalonan Setya Novanto. Ical--sapaan Aburizal, disarankannya untuk berhati-hati dalam membuat keputusan.  [ ... ]


“Rumah Transisi” Diplesetkan Jadi “Rumah Transaksi”
09/09/2014 | endro rhs
article thumbnail

Spanduk sindiran Rumah Transisi yang terletak di Jalan Situbondo 10, Menteng, Jakarta Pusat terpasang di sejumlah jalan di Jakarta. Salah satu spanduk tersebut terpasang di Jalan Raya Tugu Tani, Jakar [ ... ]


Sex, Lies & Cigarettes

Banner
Banner

 

Bisnis Pistol Gelap di Masa Krisis PDF Print E-mail

Oleh S.S. Budi Rahardjo

JAKARTA --- Pistol adalah jenis senjata api paling praktis bagi penggunaan individual. Ukurannya relatif kecil, sehingga memudahkan untuk dibawa tanpa terlihat. Di Indonesia, pistol adalah perlengkapan bagi bintara polisi di lapangan. Pistol adalah jenis senjata genggam berlaras pendek dengan kaliber relatif kecil yang dirancang untuk ditembakkan dengan satu tangan.

Menurut Kapolri Letjen (Pol) Roesmanhadi, tak sembarang orang boleh memiliki pistol. Bahwa kepolisian mengeluarkan izin pemilikan senjata oleh sipil, itu memang benar. Namun, "Polri mengeluarkan izin penggunaan senjata api secara selektif untuk orang-orang tertentu. Tidak semua dikasih izin," ujarnya.

Walaupun secara resmi persyaratan kepemilikan pistol demikian berat, nyatanya jual beli pistol kerap terjadi. Banyak cara untuk memiliki senjata api atau alat pengaman diri lainnya. Bisa dari pasar gelap yang mendapat pasokan dari luar negeri atau bursa rakitan lokal.

Pembelinya tak hanya datang dari Jakarta, tapi juga dari kota-kota lain. Peminat beceng (sebutan pistol di kalangan preman) 96 kini tidak hanya warga keturunan Cina yang takut akan terjadi kerusuhan rasial. Demam membekali diri dengan alat pengaman itu merasuk sampai ke kalangan profesional dan pribumi metropolitan. Orang "biasa-biasa saja" pun banyak yang merasa perlu membekali diri dengan senjata tatkala kriminalitas kota merebak.

"Kalibernya tidak terlalu besar. Hanya lima milimeter. Tapi, babi pun akan mati bila ditembak dengan pistol ini," kata Iwan (bukan nama sebenarnya) berpromosi. Kendati, ia menjual senjata ilegal, tak sedikit pun terlintas gurat-gurat kekhawatiran di wajahnya. Maklum, pria bertubuh gempal ini mengaku hanya mau menjual senjata kepada kenalan dekat.

Iwan mematok harga Rp24 juta per pistol. Ketika ditanya apakah harga tersebut sudah termasuk surat-surat, ia berujar, "Buat apa pakai surat? Bila terjadi apa-apa, bukankah lebih baik tanpa surat? Kita tidak ketahuan bila menembak orang. Sebab tidak ada surat yang berisi identitas kita."

Iwan menambahkan, tak hanya pistol yang ditawarkan. Ia juga punya dagangan berupa alat pengaman lain, yaitu gas air mata yang kini kerap digunakan dalam operasi militer. Bentuknya menyerupai tabung silinder dengan tinggi kira-kira lima belas sentimeter dan diameter sekitar tiga sentimeter.

Tak seperti gas air mata lainnya, alat ini mempunyai pin pemicu. Bila pin ditarik gas akan keluar dan oleh karenanya tabung harus segera dilemparkan. Gas yang memedihkan mata itu dijamin langsung merebak. Sayangnya harga alat ini tidak bisa saat itu juga diberikan oleh Iwan. "Bila mau, bisa pesan," kata Iwan yang mengaku mendapatkannya dari orang dalam di kalangan militer.

Hal serupa diutarakan oleh Beni, seorang pedagang senjata api gelap lain. Ia mengatakan, banyak anak petinggi negeri membeli pistol darinya. "Mau pistol model apa? Tunjuk saja modelnya di majalah semacam Guns & Ammo atau Guns & Weapon. Bayar uang muka, beres," katanya. "Kemarin cucu Cendana baru membeli pistol ke gue," ujarnya lagi. "Pistol kaliber 22 yang dipakai Kopassus harganya Rp 22 juta," beber Beni. Hanya saja, kali ini Beni tak bisa mengurus perizinannya. "Orang gue di Polda sudah dipecat."

Berbeda dengan Beni dan Iwan yang berangkat dari bisnis senjata gelap, Edi mengaku menjadi "rekanan" Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang biasa mengimpor senjata untuk tentara. "Ini pistol resmi," ujarnya. Pistol yang dijual Edi dipromosikan lewat brosur dan gunanya hanya untuk melumpuhkan. Para pembeli senjata ini umumnya top executive atau pengusaha kelas atas.

Harga pistol revolver semiotomatis itu Rp 23,5 juta, sudah termasuk pengurusan surat izin. Jika ingin pesan harus bayar uang muka 50 persen. "Kalau perizinannya ditolak, uang bisa kembali," katanya. Pistol ini kaliber sembilan milimeter.

Berbeda dengan senjata api gelap yang beredar, pistol model Colt yang bentuknya mirip FN 32 ini memakai peluru gas air mata. "Bukan peluru tajam," jelas Edi. "Dua ratus unit senjata sudah laku terjual," kata pria yang mengaku saat ini sedang mengurus beberapa unit pemesan. "Izinnya langsung dari Kapolri," jelasnya. Izin baru keluar sekitar satu bulan kemudian.

"Yang penting, di data komputer Polda belum black list," ujar Edi menjelaskan kriteria orang yang dapat membeli senjata dari dirinya. Ia pun menguraikan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain fotokopi kartu tanda penduduk (KTP), surat keterangan dokter, dan surat keterangan dari kantor tempat bekerja. Sebagai tambahan, senjata ini hanya boleh dibeli oleh mereka yang menduduki jabatan kepala bagian atau manajer ke atas.

Untuk surat kelakuan baik yang dikeluarkan oleh Polda, "Kami yang urus, deh. Anda hanya isi formulir, kemudian sidik jari," tuturnya. Pria ini kemudian menjelaskan beberapa manfaat dan larangan memiliki senjata, antara lain jangan lupa jarak tembaknya 25 meter. Senjata ini hanya boleh untuk menjaga diri. Tak boleh ditembakkan dalam jarak dekat. Minimal tujuh sampai sepuluh meter. Sebab, jika ditembakkan dalam jarak dua meter, pasti tembus juga ke
tubuh orang.

"Bunyi dan fisiknya sama persis yang dipakai polisi. Hanya isinya peluru gas air mata," ujar pedagang yang telah melakukan jual beli senjata sejak lima tahun lalu. Bila izin sudah keluar dan pistol dimiliki, hendaknya dibawa ke mana-mana. Jangan ditinggal di mobil atau ditaruh sembarangan. Bukan apa-apa. Jika senjata itu disalahgunakan, yang repot pemiliknya karena setiap nama pemiliknya sudah diregistrasi. Nomor seri sebuah senjata api
dicatat dengan tembusan ke Badan Intelijen ABRI. Bagi orang yang ingin membeli senjata dengan harga lebih murah, pistol-pistol buatan lokal mungkin dapat menjadi pilihan. Para perajin senapan angin Jawa Barat punya reputasi sendiri dalam hal mengutak-atik senjata api.

Yang jelas, mereka yang berkantong tebal memang bisa membekali diri dengan pistol atau alat pengaman lain. Namun, dikhawatirkan mudahnya jual beli senjata juga mempermudah para kriminalis dalam mempersenjatai diri. Masyarakat lagi-lagi menjadi korban.

** Penulis adalah Reporter Crash Program